Selasa, 20 September 2016

Angkringan

Tags

Hasil gambar untuk angkringan

Istilah angkringan berasal dari kata angkring atau nangkring yang dalam bahasa Jawa memiliki arti duduk santai. Konsep warung angkringan ini berbentuk gerobak yang atasnya dilapisi dengan terpal ataupun tenda plastik. Warung angkringan ini biasanya buka dari siang hingga menjelang shubuh. Sungguh pas buat anak muda yang suka nongkrong dengan duit pas pas an.
Istilah angkringan sangat identik dengan kota Yogyakarta. Pada tahun 1950-an, tempat angkringan lahir dari Kota Pelajar ini. Warung angkringan ini memiliki menu yang sangat digemari yaitu nasi kucing – kalau orang Jawa menyebutnya sego kucing. Kenapa nasi kucing sebagai menu favorit? Konon katanya, zaman dahulu kala orang orang yang berkunjung ke angkringan merupakan orang kasta bawah (wong cilik). Nah karena yang beli adalah wong cilik maka menu yang dihidangkan pun harus sesuai. Nasi kucing ini selain harganya murah, makan 3 atau 4 bungkus juga membuat perut kenyang. Biasanya lauk pauk seperti tempe sambal kering, teri goreng, sate telur puyuh, sate usus, sate ceker, dan ikan bandeng menjadi menu tambahan. Sedangkan untuk minuman, umumnya menjual wedang jahe, susu jahe, teh manis, air jeruk dan kopi.

Terkenalnya angkringan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari nama Mbah Pairo. Mbah Pairo yang berasal daerah Cawas, Klaten, Jawa Tengah ini, waktu itu mengadu nasib ke Yogyakarta karena himpitan ekonomi keluarga.
Mbah Pairo biasanya menggelar dagangannya di sudut sisi sebelah utara Stasiun Tugu Yogya. Dulunya dikenal dengan sebutan Ting-ting Hik (baca: hek). Istilah hik ini merupakan teriakan khas “Hiiik…iyeek” setiap kali beliau menjajakan dagangannya dan kemudian melahirkan istilah Hik (Hidangan Istimewa Kampung). Sebutan hik lebih populer di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih popular. Di Semarang lebih dikenal dengan sebutan kucingan.
Dahulunya angkringan hanya menjadi tempat beristirahat rakyat kecil yang umumnya berprofesi sebagai supir, tukang becak dan delman. Tetapi dengan berkembangnya zaman, angkringan malah semakin digemari oleh beragam lapisan masyarakat, mulai dari mahasiswa, seniman, pegawai kantor, hingga pejabat.
Angkringan memang bukan seperti gudeg atau soto, dimana keduanya sengaja ‘dibawa’ ke kota untuk diperkenalkan ke masyarakat yang lebih luas. Tidak ada yang istimewa dari apa yang disajikan di angkringan dari jenis makanan atau minuman. Karena semua yang tersaji adalah makanan ‘wong cilik’ yang apa adanya.
Namun keramahan, dan kehangatan di angkringan menjadi keunikan tersendiri yang coba ditawarkan di kota lain, tentunya dengan semangat saling menghargai tradisi dan kesederhanaan. Di angkringan orang boleh makan sambil tiduran, sambil mengangkat kaki, teriak atau mengeluarkan sumpah-serapah. Tetapi tak jarang, angkringan jadi ajang diskusi. Selama tungku dan minuman masih hangat, maka selama itu keramahtamahan suasana angkringan akan kita dapatkan.
Karena angkringan begitu terkenal di Indonesia. Banyak orang yang membuka bisnis ini sebagai bisnis sendiri hingga membuat franchise angkringan. Bisnis angkringan ini lumayan menjanjikan jika benar benar ditekuni. Apalagi hingga dapat membuat franchise angkringan.

This Is The Newest Post

6 komentar

bang mau tanya angkringan di jogja yang paling rame dan menunya enak dimana ya bang?

di daerah malioboro mba,kopi jos itu loh mba

oh iya mas makasih ya mas atas infonya :)

iya mba anies sholekha sama-sama

murah kok mba lisha Zosha..coba di cek aja


EmoticonEmoticon